Resensi Novel Selena dan Nebula karya Tere Liye

“Dunia kita dekat sekali dengan kegelapan. Maka saat gelap menyelimutimu pastikan kamu tetap berusaha mencari cahaya di sekitarmu. Dirimu sendiri adalah satu-satunya yang bisa kau percaya. Nurani. Cahaya kecil itu selalu ada di dalam hatimu. Gunakanlah. Terangi jalanmu, temukan pilihan hidupmu. Semoga itu bisa membawamu menuju jalan yang baik.” -pesan Bibi Gill untuk Selena.

“Selena, hal 339.”

HAI BULAN SABIT GOMPAL!!!

Masih ingat dengan serial bumi karya bang Tere Liye? Yap namanya sudah tak asing bukan dengan novelnya yang berseri-seri. Novelis Indonesia kelahiran tahun 1979 ini berhasil membuat para pembacanya bertanya dan penasaran lho dengan seri selanjutnya.

Bagaimana tidak?
Di akhir cerita penggemar bang Tere sudah tak kaget dengan adanya sambungan lagi. Ditambah cover buku dari Orkha Creative berbau khas, unik, berkarakter tentunya sangat berbeda dari novel kebanyakan, yang menaruh simbolisasi setiap peristiwa yang ada dalam jalan ceritanya.

Nah, jika sebelumnya menceritakan tentang Raib yang bisa menghilang, Seli yang bisa mengeluarkan petir, dan Ali yang bisa melakukan apa saja. Maka di buku “Selena” ini justru menceritakan kisah persahabatan Miss Selena, guru matematika mereka. Selena sang pengintai hebat, Mata yang bisa melakukan teknik secara tiba-tiba, dan Tazk si mantan boyband sekaligus cucu mantan Panglima Pasukan Bayangan.

Setelah melakukan 2 tes dan lolos, Selena menjalankan tes ketiganya yakni teknik bertarung, sayangnya ia gagal melewatinya. Namun ambisi Selena tidak menghalangi niatnya untuk bersekolah di Akademik Bayangan Tingkat Tinggi. Kejutan. Tamus datang untuk membantu Selena dengan rencananya yang sangat besar. Selena mengiyakan kesepakatan dengan Tamus yang membawanya ke jalan kegelapan.

“Apa yang sebenarnya Tamus lakukan pada Selena ya dan rencana apa yang dimaksud?”

Sebenarnya setelah aku membaca serial dari Bumi hingga Komet Minor yang aku tunggu bukanlah mereka yang mengalahkan Si Tanpa Mahkota, bukan Raib, Seli, dan Ali yang berhasil menyelamatkan Dunia Paralel. melainkan Siapakah orang tua Raib? Bagaimana ceritanya orang tua pemilik garis keturunan murni Klan Bulan bisa nyasar ke Klan makhluk rendah, Klan Bumi. Ada yang sama nggak ?

Akankah misteri “Siapa orang tua kandung Raib.” terjawab di buku Selena dan Nebula ini?

Selena, Mata, dan Tazk, mereka bertiga menjadi Top Students di angkatan 78. Dan yang tak kalah seru di serial ini yakni Master Ox, dosen yang sangat dihormati namun jika kesal dan marah ia akan mengeluarkan kata khasnya “Bulan Sabit Gompal.” kocak😉. Empat tahun menjalani kehidupan sebagai anak kuliah sibuk dengan makalah dengan nama mata kuliah yang super unik, ternyata ketika sahabat ini merencanakan sesuatu loh. “Petualangan Dunia Paralel dan mencari Cawan Keabadian.”

Cawan Keabadian? Di manakah letaknya? Apakah di dalam perut ikan seperti Klan Komet Minor?  namun sayangnya… pengkhianatan, egoisme, dan rasa suka telah mengubah sejarah Dunia Paralel.

“Kamu adalah teman terbaikku, Selena. Kamu adalah saudaraku. Tidak ada yang boleh menyakitimu. Aku tidak akan pernah membiarkannya.” –salah satu pesan Mata yang sangat tulus kepada sahabatnya tersebut didetik terakhir mereka terdesak.

“Nebula, hal 350”

Entahlah. Kejutan dan fantasi apalagi yang akan Bang Tere tuang dalam buah penanya. Dan berapa banyak huruf, diksi, kalimat yang beliau rangkai serta susun sehingga membentuk 1 karya seni. Buku.

Berbicara tentang buku, tentu tidak terlepas dari para karakternya bukan? jika dibandingkan dengan buku pertamanya, 2 dari 3 sahabat ini hanya bertukar watak loh, misalkan karakter Selena itu Ali versi perempuan, Tazk itu Raib versi laki-laki, dan Mata tetap seperti Seli yang setia kawan.

Tentunya buku ini tak kalah menariknya loh dari serial pertama karena tetap memuat aksi dan keseruan. Bedanya dua buku fantasi ini dibumbui sedikit romantika. Tetapi tetap terkandung hikmah dalam berbagai adegan baik tersurat maupun tersirat.

Salah satunya sindiran keras bagi semua kaum penghuni dunia yang sangat nyata adanya: “Semakin maju teknologi, memang semakin banyak waktu yang dihemat manusia, tapi kualitas hidup mereka justru menurun. Waktu dan kemudahan hanya digunakan untuk hal sia-sia, memelototi gadget di tangan.” -ucap Kosong kepada Selena.

“Nebula, hal 299”

Namun hidup tentunya seperti kopi dong ada yang manis dan ada yang pahit, atau seperti roda kadang diatas kadang dibawah. Aku sedikit merasa gaya penulisan di buku Selena dan Nebula agak berbeda. Aku merasa Klan Bulan tidak ada bedanya dengan Klan Bumi selain hanya dari teknologinya saja, banyak hal yang menurutku seharusnya lebih dieksplor. Serta fatalnya masih ada Typo di beberapa halaman contohnya pada “Selena, hal 264” 

Bagi kalian yang menyukai dunia fantasi, imajinasi, namun tak luput dari pelajaran, petualangan menegangkan, dan teknologi yang tinggi. Buku ini cocok sebagai peneman kalian. Semoga resensi ini bisa bermanfaat ya bagi orang lain dan kalian semua😉.

Ingat, akhir merupakan awal dari sebuah perjalanan dan petualangan yang sebenarnya bukan? Jadi mari kita nanti kan bersama 3 buku lagi dari petualangan Dunia Paralel.

Sampai Jumpa di buku Selanjutnya…

B i o d a t a  B u k u

Judul : Selena
Novelis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun Terbit : 2020
Co-Author : Diena Yashinta
Cover oleh : Orkha Creative
Nomor Edisi Terbit : ISBN 9786020639512
Jumlah Halaman : 368 halaman

“Masa depan dipahat lewat masa lalu, hari ini adalah cerminan hari hari kemarin.”
-Selena, hal 113

Judul : Nebula
Novelis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun Terbit : 2020
Co-Author : Diena Yashinta
Cover oleh : Orkha Creative
Nomor Edisi Terbit : ISBN 9786020639536
Jumlah Halaman : 376 halaman

“Saat kita mati, yang dibawa hanyalah jiwa. Fisik ditinggalkan.”
-Nebula, hal 151

4 thoughts on “Resensi Novel Selena dan Nebula karya Tere Liye”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top